Rabu, 30 Maret 2011

ALGINAT

Praktikum ke-4 Hari/tanggal : Sabtu/ 15 Mei 2010

MK. Teknologi Industri Tumbuhan Laut Dosen : Dr. Ir. Joko Santoso, M.Si

ALGINAT

Small Logo IPB Hitam

Asisten :

Muhamad Idris Wahyu Ramadhan

Made Suhandana Rachmawati Rusydi

Disusun Oleh :

Suhana Sulastri C34070078

Kelompok VI

  1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu sumber daya hayati yang cukup potensial dari perairan laut Indonesia adalah rumput laut dengan berbagai macam jenisnya. Rumput laut merupakan bagian dari tanaman perairan, yang termasuk pada kelas makro alga (Costa 2003). Rumput laut dimanfaatkan selain sebagai sayuran juga dipakai sebagai pupuk, komponen makanan ternak, dan makanan ikan (Atmaja et al. 1996). Saat ini Indonesia masih merupakan eksportir penting di Asia. Sayangnya rumput laut masih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah yaitu berupa rumput laut kering, sedangkan hasil olahan rumput laut seperti agar-agar, karaginan dan alginat masih banyak diimpor dengan nilai yang cukup besar (Andriani 2006). Ekspor rumput laut tahun 2000 yaitu sebesar 23.073.441 kg, tahun 2001 adalah 27.874.058 kg, tahun 2002 adalah 28.559.855 kg dan 2003 adalah 40.162.137 kg dengan rata-rata ekspor rumput laut dalam negeri sekitar 28.950.755 kg/th (Anggadiredja et al. 2008). Namun, seiring dengan perkembangan teknologi rumput laut telah ditingkatkan pemanfaatannya sehingga memberikan nilai yang lebih tinggi misalnya sebagai bahan baku pembuatan alginat. Rumput laut coklat yang potensial untuk digunakan sebagai sumber penghasil alginat diantaranya adalah jenis Macrocystis, Turbinaria, Padina dan Sargassum sp. Kandungan alginat pada rumput laut coklat tergantung musim, tempat tumbuh, umur panen dan jenis rumput laut (Winarno 1996).

Alginat merupakan suatu kopolimer linear yang terdiri dari dua unit monomerik, yaitu asam D-mannuronat dan asam L-guloronat. Alginat terdapat dalam semua jenis algae coklat (Phaeophyta) yang merupakan salah satu komponen utama penyusun dinding sel. Alginat yang ditemukan dalam dinding sel algae coklat tersebut terdiri atas garam-garam kalsium, magnesium, natrium, dan kalium alginat (Kirk dan Othmer 1994). Sifat-sifat fisikokimia seperti viskositas dan rasio monomer penting artinya dalam pemanfaatan alginat pada berbagai industri misalnya industri makanan, minuman, kosmetik, cat, tekstil dan pemanfaatan lainnya. Viskositas dan gel strength merupakan dua karakteristik kunci dalam kualitas alginat. Rasio monomer yang menyusun alginat juga penting dalam pemanfaatan terutama dalam kaitan sifat bioaktifnya maupun sifat struktur dari gelnya. Viskositas maupun rasio monomer alginat juga dipengaruhi oleh spesies, asal dan proses ekstraksi dari alginatnya. Rasio monomer penyusun alginat berbeda-beda ditentukan oleh spesies alginofit yang menghasilkannya, dan tempat tumbuh alginofitnya (Rachmat dan Rasyid 2002).

Sifat-sifat alginat sebagian besar tergantung pada tingkat polimerisasi dan perbandingan komposisi guluronat dan mannuronat dalam molekul. Asam alginat tidak larut dalam air dan mengendap pada pH < 3,5 sedangkan garam alginat dapat larut dalam air dingin atau air panas dan mampu membentuk larutan yang stabil. Natrium Alginat tidak dapat larut dalam pelarut organik tetapi dapat mengendap dengan alkohol. Alginat sangat stabil pada pH 5 – 10, sedangkan pada pH yang lebih tinggi viskositasnya sangat kecil akibat adanya degradasi ß- eliminatif. Ikatan glikosidik antara asam mannuronat dan guluronat kurang stabil terhadap hidrolisis asam dibandingkan ikatan dua asam mannuronat atau dua asam guluronat. Kemampuan alginat membentuk gel terutama berkaitan dengan proporsi L-guluronat (An Ullman’s 1998 diacu dalam Maharani dan Widyayanti 2009).

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari proses pengolahan alginat yang diperoleh dari rumput laut Sargassum sp.

  1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi dan Klasifikasi Sargassum sp.

Sargassum sp. memiliki bentuk thallus silindris atau gepeng, banyak percabangan yang menyerupai pepohonan di darat, bangun daun melebar, lonjong seperti pedang, memiliki gelembung udara yang umumnya soliter, batang utama bulat agak kasar, dan holdfast (bagian yang digunakan untuk melekat) berbentuk cakram. Pinggir daun bergerigi jarang, berombak, dan ujung melengkung atau meruncing. Sargassum sp tersebar luas di perairan Indonesia, dapat tumbuh di perairan terlindung maupun berombak besar pada habitat berkarang. Sargassum sp biasanya dicirikan oleh tiga sifat yaitu pigmen coklat yang menutupi warna hijau, hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminarin dan algin serta adanya flaget. Rumput laut jenis Sargassum umumnya merupakan tanaman perairan yang mempunyai warna cokelat, berukuran relatif besar, tumbuh dan berkembang pada substrat dasar yang kuat. Bagian atas menyerupai semak yang berbentuk simetris bilateral atau radial serta dilengkapi bagian sisi pertumbuhan (Anggadiredja et al. 2008)

Adapun klasifikasi Sargassum menurut Anggadiredja et al. (2008) sebagai berikut :

Divisi : Rhodophyta

Kelas : Phaeophyceae

Ordo : Fucales

Famili : Sargassaceae

Genus : Sargassum

Gambar 1. Sargassum

Sumber : Atmadja et al. (1996)

2.2 Komponen Kimia Sargassum sp.

Alginat merupakan molekul linier dengan berat molekul tinggi, sehingga mudah sekali menyerap air. Oleh karena itu, alginat baik sekali fungsinya sebagai bahan pengental. Secara kimia, alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang (Winarno 2008). Bobot molekul alginat bervariasi, tergantung dari jenis alginat, sumber bahan baku yang digunakan dan cara penyiapan bahan baku. Bobot molekul alginate berkisar antara 350.000-1.500.000, sedangkan alginat yang diperdagangkan berkisar antara 22.000-200.000 dengan tingkat polimerisasi 180-930. Adapun komposisi kimia Sargassum sp. berdasarkan hasil penelitian Luhur (2006) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Kimia Sargassum sp.

Komposisi kimia

Persentase (%)

Karbohidrat

19,06

Protein

5,53

Lemak

0,74

Air

11,71

Abu

34,57

Serat kasar

28,39

Sumber : Roswien (1991) diacu dalam Luhur (2006)

2.3 Alginat

Menurut Winarno (2008), alginat merupakan komponen utama dari getah ganggang coklat (Phaeophyceae), dan merupakan senyawa penting dalam dinding sel spesies ganggang yang tergolong dalam kelas Phaeophyceae. Secara kimia, alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang. Alginat membentuk garam yang larut dalam air dengan kation monovalen, serta amin dengan berat molekul rendah, dan ion magnesium. Oleh karena alginat merupakan molekul linier dengan berat molekul tinggi, maka mudah sekali menyerap air. Karena alasan tersebut, maka alginat baik sekali fungsinya sebagai bahan pengental. Alginat dapat diekstrak dari alginophyte, yaitu dari phaeophyceae yang menghasilkan alginat, antara lain Macrocystis, Ecklonia, Fucus, Lessonia, dan Sargassum.

Ada dua jenis monomer penyusun alginat, yaitu β-D-Mannopyranosil Uronat dan α-L-Asam Gulopyranosyl Uronat. Dari kedua jenis monomer tersebut, alginat dapat berupa homopolimer yang terdiri dari monomer sejenis, yaitu β-D-Mannopyranosil Uronat saja atau α-L-Asam Gulopyranosyl Uronat saja; atau alginat dapat juga berupa senyawa heteropolimer jika monomer penyusunnya adalah gabungan kedua jenis monomer tersebut, seperti yang diilustrasikan sebagai berikut :

Gambar 2. Struktur alginat

Sumber : Rasyid (2005)

2.3.1 Na-alginat

Viskositas Na-alginat dikelompokkan kedalam lima kelompok, yaitu ekstra tinggi 100 cps, tinggi 500 cps, medium 300 cps, ekstra rendah 20-30 cps. Pengukuran dilakukan terhadap 1% larutan alginat pada suhu 20oC. Menurut Rahardian (2009), faktor-faktor fisika yang mempegaruhi sifat-sifat larutan alginat adalah suhu, konsentrasi dan ukuran polimer. Karakeristik fisik garam alginat yaitu berupa tepung atau serat, berwarna putih sampai dengan kekuningan, hampir tidak berbau, dan berasa. Sedangkan faktor-faktor kimia yang berpengaruh adalah pH dan adanya pengikat logam, serta garam monovalen dan kation polivalen.

Asam alginat tidak larut dalam air dingin, namun sedikit larut dalam air panas, larut dalam alkohol, eter dan gliserol. Garam-garam (K, Na, NH4+, dn Ca2-) dan propilen glikol alginat larut dalam air dingin maupun panas, tapi garam kalsiumnya tidak dapat larut dalam kondisi pH>7. Larutan garam alginat yang larut dalam air akan membentuk gel pada larutan asam atau karena adanya ion kalsium dan kation logam plovalen lainnya (Rahardian 2009).

Pada konsentrasi tertentu larutan alginat akan menjadi gel bila asam atau logam-logam polivalen ditambahkan pada natrium, kalium atau amonium alginat. Kemampuan alginat membentuk gel secara reaksi dengan garam kalsium merupakan sifat yang penting. Biasanya sebagai sumber kalsium adalah kalsium karbonat, kalsium sulfat, dan kalsium klorida. Larutan natrium alginat 1-12 % akan menjadi keras seperti gel oleh penambahan kalsium atau ion-ion bervalensi 2(Ba2+, Pb2+, dan Sr2+). Semakin tinggi konsentrasi alginat dan derajat polimerisasinya, semakin kuat gel yang terbentuk. Kekuatan gel dapat dikontrol atau diatur sehingga dapat dihasilkan gel yang lunak atau lembut, yang elastis, yang keras ataupun yang kaku (Rahardian 2009). Adapun struktur kimia Na-alginat dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Struktur kimia Na-alginat

2.3.2 K-alginat

K-alginat dipakai dalam obat-obatan cair karena bisa meningkatkan viskositas dan dan pensuspensi bahan padat sehingga digunakan sebagai koloid pelindung. Aplikasi K-alginat misalnya sebagai pengisi obat penicillin dan obat-obat sulfa. K-alginat juga efektif sebagai tablet binder, pengemulsi yang digunakan dalam pembuatan kapsul. Selain itu, alginate juga bisa digunakan sebagai pengental yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan shampoo cair serta sebagai bahan sediaan untuk minyak rambut dan larutan pencuci rambut (Anggadiredja 2008).

Di bidang lainnya, garam alginate ini juga dipakai untuk kosmetik, berupa cream, jelly, serta pembentuk dan penstabil busa. Jelly berfungsi untuk mencegah iritasi kulit, sedangkan alginate sebagai pembentuk dan penstabil busa diaplikasikan pada sabun mandi dan sabun mencukur (Anggadiredja 2008).

2.4 Syarat Mutu Alginat

Menurut Food Chemical Codex (1981) diacu dalam Yunizal (2004), rumus molekul dari asam alginat adalah (C6H706Na)n. Garam natrium dari asam alginat berwarna putih samai kekuningan, berbentuk tepung atau serat, hampir tidak berbau dan berasa, larut dalam air dan mengental (larutan koloid), tidak larut dalam larutan hidrokoloid dengan kandungan alkohol lebih dari 20%, dan tidak larut dalam kloroform, eter, dan asam dengan pH kurang dari 3. Standar mutu internasional untuk asam alginat dan garam alginat sesuai dengan Food Chemical Codex (1981) diacu dalam Yunizal (2004) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Standar mutu asam alginat dan garam alginat

Karakteristik

Asam alginat

Garam alginat

Kemurnian (% berat kering)

91-104%

90.8-106%

Rendemen

>20%

>18%

Kadar CO2

<23%

<21%

Kadar As

<3 ppm

<3 ppm

Kadar Pb

<0.004%

<0.004%

Kadar Abu

<4%

18-27%

Susut pengeringan

<15%

<15%

Sumber : Food Chemical Codex (1981) diacu dalam (2004)

2.5 Aplikasi Alginat

Alginat dimanfaatkan dalam berbagai industri seperti industri makanan, minuman, obat, kosmetik, tekstil, industri cat dan penggunaan lainnya. Pemanfaatan alginat sebagai emulsifying agent, disintegrating agent, moisturizing agent, pemanfaatan ini didasarkan pada sifat fisika dan kimia alginat (Rachmat dan Rasyid 2004). Alginat telah terbukti memperkuat mucus, perlindungan alamiah dari dinding usus, dapat memperlambat pencernaan, dan pelepasan gizi di dalam tubuh. Lebih lanjut, alginat mengandung serat yang tinggi, mengandung mineral penting, mudah dicerna, enak dan aman. Selama ini alginat telah banyak digunakan sebagai bahan jelly, perekat makanan bertepung, bahan pengental pada pembuatan minuman semacam bir, es krim, cream pada yoghurt dan Iain-lain. Di Indonesia telah dikenal minuman alginat, namun masih perlu dukungan promosi yang lebih luas. Kemungkinan penggunaan lain yang perlu dipopulerkan adalah sebagai casing sosis, mengingat sosis sebagai makanan praktis yang popular (Anonim 2006).

Alginat juga banyak digunakan pada industri kosmetik untuk membuat sabun, cream, lotion, shampo, dan pencelup rambut. Industri farmasi memerlukannya untuk pembuatan suspense, emulsifier, stabilizer, tablet, salep, kapsul, plester, dan filter. Dalam industri makanan atau bahan makanan alginat banyak dijadikan sayur, saus, dan mentega. Dalam beberapa proses industri, alginat juga diperlukan sebagai bahan additive antara lain pada industri tekstil, kertas, keramik, fotografi, insektisida, pestisida, pelindung kayu, dan pencegah api (Susanto 2009).

Alginat juga dapat berfungsi sebagai senyawa peningkat daya suspensi larutan (stabilisator) dengan proses pengentalan larutan itu sendiri. Di sistem lain, alginat mampu menjaga suspensi karena muatan negatifnya serta ukuran kalorinya yang memungkinkan membentuk pembungkus bagi pertikel yang tersuspensi. Sifat viskositasnya yang tinggi mampu mempengaruhi stabilitas emulsi minyak dalam air. Propyleneglycol alginat memiliki gugus lipophylic maupun hydrophylic yang terdapat dalam molekul dan merupakan emulsifier asli dengan sifat pengental yang kuat (Winarno 2008).

  1. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum tentang analisis mutu rumput laut kering ini dilakukan pada hari Sabtu, 15 Mei 2010 dari pukul 08.00 – 13.00 WIB bertempat di Laboratorium Biokimia Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktikum alginat adalah rumput laut Sargassum sp., NaOH 0,5 %, Na2CO3 2 %, Na2CO3 10 %, NaOCL 10 %, HCl 0,2 N, 25 ml larutan H2O2, 10 ml larutan BaCL2, propylene oxide 10 %, NH4CO3 10 % dan K2CO3 10 %. Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah penangas air, timbangan digital, termometer, pengaduk, saringan, peralatan gelas, viskometer, cawan porselen, oven, mesin tanur, penangas air, kertas saring dan desikator.

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja analisis alginat dari rumput laut Sargassum sp. dipotong dan dicuci kemudian direndam dalam HCl 0,5 % dengan perbandingan 1 : 15 (b/v) selama 30 menit. Setelah itu kemudian dicuci dan direndam lagi dalam NaOH 0,5 % dengan perbandingan 1:15 selama 30 menit dan kemudian diekstraksi dengan larutan Na2CO3 2 % pada suhu 60 ˚C selama 60 menit. Setelah diekstraksi, lalu disaring dan dicuci serta dipucatkan dengan larutan NaOCl 10 % dengan perbandingan 1:50. Setelah itu diendapkan hingga membentuk asam alginat dengan larutan HCl 15 %. Setelah terbentuk asam alginat, kemudian diendapkan lagi Na2CO3 10 % sehingga membentuk Na-alginat. Setelah itu kemudian dilarutkan dengan IPA (Isopropyl alkohol) sehingga membentuk serat Na-alginat. Kemudian dikeringkan dan dilakukan proses penepungan sehingga menghasilkan tepung Na-alginat. Diagram alir prosedur kerja analisis alginat dari rumput laut Sargassum sp. disajikan pada Gambar 4.










Gambar 4. Diagram alir prosedur pembuatan tepung Na dan K Alginat dari Sargassum sp.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Alginat merupakan komponen utama dari getah ganggang coklat (Phaeophyceae), dan merupakan senyawa penting dalam dinding sel spesies ganggang yang tergolong dalam kelas Phaeophyceae. Ada dua jenis monomer penyusun alginat, yaitu β-D-Mannopyranosil Uronat dan α-L-Asam Gulopyranosyl Uronat. Alginat merupakan garam dari asam alginat yang banyak dijumpai dalam bentuk natrium alginat ( McNelly dan Pettit 1973 diacu dalam Luhur 2006). Pada praktikum ini dilakukan analisis terhadap beberapa parameter mutu alginat yang dihasilkan dari ekstraksi rumput laut Sargassum sp. Adapun parameter mutu yang diukur yaitu meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, kadar sulfat, dan vikositas yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil analisis mutu alginat

Karakteristik

Na-alginat

K-alginat

Rendemen

10,5 %

9,67 %

Kadar Air

69,23 %

70,65 %

Kadar Abu

32,21 %

30,87 %

Kadar Sulfat

8,09 %

8,67 %

Viskositas

1,98 cps

2,10 cps

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa rumput laut Sargassum sp.memiliki kandungan Na dan K alginat dengan kandungan rendemen dan kadar abu lebih tinggi pada Na-alginat sedangkan kadar air, kadar sulfat dan viskositas yang lebih tinggi pada K-alginat. Namun secara umum hasil yang diperoleh tidak berbeda signifikan.

4.2 Pembahasan

Alginat adalah sejenis bahan yang dikandung oleh phaeophyceae, dikenal dalam dunia industri dan perdagangan karena banyak manfaatnya. Dalam dunia industri, alginat berbentuk asam alginik (alginic acid) atau alginat. Asam alginik adalah suatu getah selaput (membrane mucilage), sedangkan alginat adalah berbentuk garam dari asam alginik (Susanto 2009). Alginat dapat diekstrak dari rumput laut coklat (Phaeophyceae), misalnya Ascepyllum, Laminaria, Macrocystis, dan Sargassum sp. Secara kimia, alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang (Winarno 2008). Ada dua jenis monomer penyusun alginat, yaitu β-D-Mannopyranosil Uronat dan α-L-Asam Gulopyranosyl Uronat. Pada praktikum ini digunakan rumput laut jenis Sargassum sp. untuk diekstrak alginatnya.

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa rumput laut Sargassum sp. memiliki kandungan Na dan K alginat yang komposisi kimianya dipengaruhi oleh perbedaan jenis individu, spesies, habitat, kematangan dan kondisi lingkungannya (Anggadiredja et al. 2008). Analisis mutu alginat berupa rendemen, kadar air, kadar abu, kadar sulfat, dan viskositas. Rendemen suatu produk sangat penting dihitung untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan maupun pengolahan terhadap hasil akhir suatu produk. Rendemen yang Na-alginat sebesar 10,5 % yang nilainya lebih tinggi daripada nilai rendemen K-alginat yang hanya mencapai 9,67 %, namun rendemen yang diperoleh ini masih lebih kecil dibandingkan dengan standar mutu internasional yang mencapai 18 % (FCC 1981 diacu dalam Yunizal 2004). Rendahnya rendemen diduga karena kerusakan garam alginat pada waktu proses pemucatan. Proses pemucatan menyebabkan pigmen teroksidasi dan terdegradasi. Rendemen alginat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya seperti spesies, iklim, metode ekstraksi, waktu pemanenan, dan lokasi budidaya (Chapman dan Chapman 1980 diacu dalam Sukri 2006)

Air merupakan komponen penting dalam bahan makanan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur serta cita rasa makanan. Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability, keragaman, dan daya tahan bahan pangan (Winarno 1996). Penentuan kadar air suatu bahan pangan perlu dilakukan sebab kadar air suatu bahan pangan dapat mempengaruhi tingkat mutu dari bahan tersebut. Kadar air yang tinggi perlu dikurangi agar terhindar dari mikroba, kapang, dan serangga sehingga memperpanjang masa simpannya (Sudiaman 1990 diacu dalam Andriani 2006). Pengeringan merupakan proses pengurangan sebagian kadar air bahan. Kadar air (Moisture Content) adalah berat air yang terdapat pada bahan, dinyatakan dengan persen basis basah (kadar air basah) atau persen basis kering (kadar air basis kering). Kadar air yang terdapat pada Na-alginat sebesar 69, 23 % yang nilainya lebih rendah daripada nilai K-alginat yang mencapai 70,65 %. Hasil yang diperoleh ini sangat berbeda dengan standar mutu internasional menentukan bahwa susut pengeringan <15 %, apabila dibandingkan dengan analisis kadar air pada praktikum, hasil yang diperoleh tergolong tinggi sehingga mutunya tergolong rendah

Abu merupakan zat organik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik, kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pembuatannya (Sukri 2006). Berdasarkan analisis kadar abu yang dihasilkan dapat diketahui bahwa kandungan Na-alginat memiliki nilai kadar abu yang lebih tinggi daripada K-alginat. Kadar abu Na-alginat sebesar 32,21 % sedangkan kadar abu K-alginat sebesar 30,87 %. Kadar abu yang dihasilkan tersebut cukup tinggi dan melebihi kadar abu garam alginat menurut standar mutu Internasional yang telah ditetapkan yaitu sebesar 18-27% (FCC 1981 diacu dalam Yunizal 2004). Tingginya kadar abu alginat pada hasil ekstraksi diduga disebabkan oleh adanya residu garam yang tidak tercuci pada tahap pencucian sehingga tidak larut pada saat diendapkan menggunakan isopropyl alcohol (IPA) (Yunizal 2004).

Kadar sulfat merupakan parameter yang digunakan untuk berbagai jenis polisakarida yang terdapat dalam alga merah (Winarno 1990 diacu dalam Wadli 2005). Kadar sulfat pada alginat mempengaruhi nilai viskositas dan kekuatan gel. Data viskositas dipengaruhi oleh kadar air dan umur panen alga. Peningkatan kadar air dan umur panen alga atau ganggang laut akan menurunkan viskositas alginat. Semakin tinggi kandungan sulfat, kekuatan gelnya semakin rendah tetapi viskositasnya semakin tinggi (Wadli 2005). Kadar sulfat yang dihasilkan oleh Na-alginat sebesar 8,09 % sedangkan kadar sulfat yang dihasilkan oleh K-alginat sebesar 8,67 %. Hal ini mengindikasikan bahwa K-alginat mengandung lebih banyak jumlah bahan pengotor pada produk. Seharusnya, alginat tidak mengadung bahan pengotor karena fungsinya sebagai bahan tambahan makanan. Moirano (1977) diacu dalam Susanto (2009) mengemukakan bahwa semakin kecil kandungan sulfat, maka nilai viskositasnya juga semakin kecil, tetapi konsistensi gelnya semakin meningkat.

Viskositas merupakan faktor kualitas penting untuk zat cair dan semi cair (kental), hal ini merupakan ukuran dan kontrol untuk mengetahui kualitas produk akhir (Joslyn 1970 diacu dalam Wadli 2005). Menurut Ostwal (1992) diacu dalam Wadli (2005) viskositas hidrokoloid dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya konsentrasi dan suhu. Menurut Anggadiredja (2008), semakin tinggi suhu pengeringan nilai viskositasnya semakin tinggi. Hal ini diduga bahwa dengan kenaikan suhu pengeringan akan meningkatkan terbentuknya jumlah ester sulfat sehingga meningkat pula viskositasnya. Nilai viskositas yang dihasilkan oleh Na-alginat sebesar 1,98 cps sedangkan K-alginat menghasilkan viskositas yang lebih tinggi yaitu sebesar 2,10 cps. Viskositas alginat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu, kadar larutan, dan derajat polimerisasi. Peningktan derajat polimerisasi menaikkan viskositas, demikian pula dengan konsentrasi. Viskositas juga akan meningkat dengan penambahan sejumlah NaCl, natrium sulfat, atau natrium karbonat. Sifat pertukaran ion pada natrium alginat tergantung pada pembentukan gel dan konsentarsi ion natrium. Viskositas dipengaruhi oleh konsentrasi, temperatur, tingkat dispersi, kandungan sulfat, inti elektrik, keberadaan elektrolit dan non elektrolit, teknik perlakuan, tipe dan berat molekul (Towle 1973 diacu dalam Sukri 2006)

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Proses pembuatan alginat secara umum terdiri atas penyiapan bahan baku, perendaman dalam HCl, pencucian, pengekstraksian dengan Na2CO3, penyaringan, pemucatan dengan NaOCl, pengendapan asam alginat dalam HCl dan akhirnya diperoleh asam alginat. Untuk memperoleh tepung alginat, dilanjutkan dengan proses pengendapan Na-alginat dengan Na2CO3, pembentukan serat Na-alginat dengan larutan isoprophyl alkohol, pengeringan dan penepungan. K-Alginat memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan Na-Alginat pada hasil analisis kadar air dan kadar sulfat, maupun viskositas. Namun rendemen dan kadar abu yang dihasilkan lebih besar pada Na-Alginat. Hal ini disebabkan oleh reaksi yang berbeda dari asam alginat tehadap ion natrium dan ion kalium. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor fisika seperti suhu, konsentrasi, dan ukuran polimer.

5.2 Saran

Pada praktikum selanjutnya sebaiknya digunakan beberapa jenis sampel rumput laut sehingga diketahui pengaruh perlakuan terhadap karakteristik berbagai jenis rumput laut penghasil alginat dan mengetahui jenis rumput laut terbaik dalam menghasilkan alginat.

1 komentar:

  1. sore mbak,,
    bisa gak diperjelas dan diperinci cara pembuatan alginat dengan alat apa saja sekaligus bahannya?
    terimakasih mbak.

    BalasHapus